TRIBUNSPORTS.COM – Persaingan panas antara Ferrari dan Mercedes di musim Formula 1 2026 tidak hanya terjadi di lintasan, tetapi juga dalam “perang politik” pengembangan mesin.

Ferrari Mulai Curiga! Mercedes Diduga Sengaja Turunkan Performa Mesin

Sejak awal musim, performa mesin Mercedes disebut-sebut unggul, terutama dalam hal manajemen energi listrik (ERS). Bahkan, keunggulan ini terlihat jelas pada tim pabrikan mereka, sementara tim pelanggan seperti McLaren, Alpine, dan Williams belum mampu memaksimalkannya.

Hal ini membuat Ferrari mulai mencurigai adanya strategi tersembunyi dari Mercedes.

Mercedes Jadi Patokan, FIA Awasi Ketat

FIA kini menerapkan sistem evaluasi baru untuk mengukur performa power unit. Penilaian dilakukan berdasarkan output tenaga mesin (bhp/kWh), dengan Mercedes dijadikan sebagai benchmark utama.

Dalam sistem ini, pabrikan yang tertinggal akan mendapatkan kesempatan upgrade tambahan:

  • Selisih 2% – 4% → 1 upgrade tambahan

  • Selisih >4% → 2 upgrade tambahan

Secara kasar, selisih ini setara dengan sekitar 20 tenaga kuda (bhp).

Namun, metode pengukuran FIA tidak dipublikasikan secara detail, sehingga memunculkan spekulasi di paddock.

Ferrari Curiga Mercedes “Main Aman”

Ferrari disebut meyakini bahwa Mercedes tidak mengeluarkan seluruh potensi mesinnya di awal musim.

Tujuannya? Agar gap performa dengan Ferrari tetap di bawah ambang 2%, sehingga Ferrari tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan slot upgrade tambahan.

Jika benar, strategi ini bisa menjadi keuntungan besar bagi Mercedes dalam jangka panjang.

Meski demikian, regulasi sebenarnya melarang praktik “sandbagging” (menahan performa). FIA memiliki kewenangan untuk membatalkan slot upgrade jika ditemukan indikasi manipulasi data, termasuk melalui simulasi dan pengujian di pabrik.

Dengan empat tim yang menggunakan mesin Mercedes, FIA juga memiliki banyak data pembanding untuk melakukan verifikasi.

Ferrari Akui Masih Tertinggal

Di sisi lain, Ferrari menyadari bahwa performa mesin mereka masih belum cukup kompetitif.

Diperkirakan, power unit Ferrari tertinggal sekitar 15 bhp dari Mercedes. Hal ini menjadi alasan utama tim asal Maranello tersebut mulai mengembangkan spesifikasi baru mesin pembakaran internal (ICE).

Pengembangan ini dipimpin oleh direktur teknis mesin Ferrari, Enrico Gualtieri, yang fokus memperbaiki kelemahan utama pada sektor tenaga.

Ferrari juga optimistis masih bisa masuk dalam kategori yang berhak mendapatkan upgrade tambahan, setidaknya di rentang 2%.

Keunggulan Mercedes di Manajemen Energi

Keunggulan Mercedes tidak hanya terletak pada tenaga mesin, tetapi juga efisiensi penggunaan energi.

Mobil Mercedes W17 mampu mempertahankan tenaga puncak lebih lama tanpa harus melakukan “super clipping”, yaitu teknik pengisian ulang baterai saat pedal gas penuh.

Hal ini membuat performa mereka lebih stabil, terutama di lintasan cepat seperti Australia dan China.

Sebaliknya, Ferrari masih harus bekerja keras untuk menyamai efisiensi tersebut.

Ferrari Punya Mobil Lebih Baik?

Menariknya, meski kalah di sektor mesin, mobil Ferrari SF-26 disebut memiliki keunggulan dari sisi aerodinamika.

Beberapa analisis menyebutkan bahwa chassis Ferrari bahkan bisa sekitar 1% lebih baik dibanding Mercedes.

Namun, keunggulan tersebut belum cukup untuk menutup gap performa mesin.

Team principal Ferrari, Fred Vasseur, juga mengisyaratkan bahwa musim 2026 kemungkinan besar menjadi tahun transisi bagi timnya.

Fokus ke 2027, Ferrari Siapkan Mesin Baru

Ferrari kini mulai mengalihkan fokus ke musim 2027. Mesin baru dianggap krusial jika mereka ingin kembali bersaing memperebutkan gelar juara.

Sebagai bagian dari persiapan, Ferrari dijadwalkan melakukan sesi filming day sejauh 200 km di Monza. Sirkuit ini dipilih karena menjadi salah satu trek paling menuntut dalam hal manajemen energi.

Data dari sesi ini akan sangat penting untuk evaluasi dan pengembangan mesin ke depan.

Persaingan Belum Selesai

Selain Ferrari, pabrikan lain seperti Audi, Red Bull Powertrains, dan Honda juga diperkirakan akan mendapatkan kesempatan upgrade lebih besar, terutama jika gap performa mereka berada di atas 4%.

Dengan regulasi baru dan sistem evaluasi yang kompleks, persaingan mesin di Formula 1 kini tidak hanya soal kecepatan, tetapi juga strategi.

Apakah benar Mercedes “menyembunyikan” potensi mesinnya? Atau Ferrari memang belum mampu mengejar?

Yang jelas, drama di balik layar ini akan menjadi salah satu cerita paling menarik sepanjang musim F1 2026.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *